Kepulauan Meranti

Ngotot Bertemu Bupati, Demo ‘Raport Merah’ Berujung Ricuh

Ngotot Bertemu Bupati, Demo ‘Raport Merah’ Berujung Ricuh
Teks : Masa terlihat membakar ban di Depan Kantor Bupati Kepulauan Meranti, Jalan Dorak, Selatpanjang.

Masa Sempat Membakar Ban di Depan Kantor Bupati

MERANTI – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Peduli Untuk Rakyat (GEMPUR) menggelar aksi demo ‘Raport Merah’ Bupati Kepulauan Meranti, Selasa (09/02/2021).


Berlangsung di depan Kantor Bupati, Jalan Dorak, Selatpanjang. Masa memulai aksi pada pukul 14.00 WIB.

Pantauan dilapangan, jalannya aksi dikawal ketat oleh ratusan personel Polres dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kepulauan Meranti.

Tampak, Koordinator Lapangan Rian Rasid dan demonstran lainnya berteriak menyuarakan aspirasi serta mengevaluasi kinerja Bupati Kepulauan Meranti, H Irwan selama dua periode atau 10 tahun menjabat.


Berorasi hampir 15 menit. Masa disambut oleh Asisten III Setdakab Kepulauan Meranti Drs H Rosdaner, Asisten II H Asroruddin, Kabag Hukum Sudandri SH, Kabag Litbang Widodo, Kepala BKD Alizar dan sejumlah pejabat lainnya.

Awalnya, para mahasiswa tersebut menuntut untuk bertemu dengan Bupati. Namun diketahui orang nomer satu di Meranti itu sedang tak berada ditempat.

Akibatnya, demonstran mengambil tindakan dengan membakar ban. Namun tak berlangsung lama, pihak pengamanan dengan cepat mengambil tindakan pemadaman.

Tak berlangsung lama, aparat pengamanan langsung melakukan pemadaman api.

Para Asisten Setdakab dan beberapa orang pejabat pun mewakili Irwan yang tak bisa hadir saat itu. Tapi kehadiran mereka seolah tak digubris oleh para mahasiswa, mereka bersikeras hanya ingin bertemu dengan Irwan.

Baca Juga :  Selamatkan Pasar Sagu, Bupati Irwan Gagas Kerjasama Dengan PT BAA

Massa meminta Bupati untuk bertanggungjawab atas nasib guru yang kian memperihatinkan. Menurut mereka, kinerja Irwan tak sesuai dengan visi-misinya selama menjabat sebagai Bupati Kepulauan Meranti.

“Coba lihat, di Nerlang ada sekolah negeri namun kondisinya seperti kandang kambing. Beratapkan daun Rumbia, berdindingkan papan. Ditambah lagi nasib guru yang kian memperihatinkan,” ungkap Korlap Aksi, Rian Rasid.

Tak sampai di situ saja, mereka juga mempertanyakan apa saja yang telah dilakukan Irwan untuk Kepulauan Meranti, mulai dari sektor perekonomian, sosial dan lain-lain. Massa menilai tak ada dampak yang signifikan dalam upaya untuk membangun kabupaten termuda di Riau itu.

Disela-sela unjuk rasa, Kepala Badan Kesbangpol Kepulauan Meranti, Tasrizal Harahap sempat meminta rincian dari tuntutan aksi karena hingga saat ini Pemkab tak mengetahui apa saja tuntutannya.

Pejabat Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti sempat menghampiri para pengunjuk rasa.

“Sekitar 45 menit kami berdiri dihadapan para mahasiswa, tapi mereka tak sekalipun memberikan kesempatan kami untuk berbicara. Saya sempat meminta rincian tuntutan dari aksi itu namun tak tanggapi. Jadi kami mengambil sikap untuk kembali masuk,” jelasnya.

Baca Juga :  H Irwan Resmikan Pengoperasian RoRo Insit Pecah Buyung

Melihat pihak Pemkab Meranti balik badan, massa pun semakin berang. Mereka kemudian mencoba menggeruduk gerbang untuk masuk ke Halaman Kantor Bupati. Namun, puluhan aparat kepolisian dan Satpol PP meredamnya.

Aksi semakin memanas dan massa terus mencoba menerobos gerbang. Aparat pun terlihat letih menahan hingga kericuhan pun terjadi.

Setidaknya, ada 2 orang mahasiswa yang diamankan oleh pihak kepolisian karena diduga telah memancing kerusuhan. Tak lama kemudian mereka kembali dilepaskan.

“Bibir saya luka. Ini tindakan dari oknum polisi,” aku Kordum Aksi, Barep Prakoso usai kericuhan.

Diakui Barep, tindakan represif yang mereka terima merupakan bentuk demokrasi yang miring di Tanah Jantan.

“Semua kawan-kawan yang mendapat tindakan represif akan kami tindak lanjuti. Kami akan mengadakan juga aksi jilid II dan kami menggelar aksi juga dilindungi Undang-Undang,” paparnya.

Baca Juga :  Terancam Punah, BBKSDA Berhasil Dapatkan Empat Ekor Satwa dari Tangan Pengusaha di Pekanbaru

Sementara itu, Kasat Intel Polres Kepulauan Meranti, AKP Syaiful menegaskan bahwa muara surat pemberitahuan aksi unjuk rasa yang diterima oleh Polres tidak jelas siapa penanggung jawabnya. Padahal dengan surat tersebut, pihak kepolisian akan memberikan pengamanan kepada mereka yang berunjuk rasa.

Surat yang dilayangkan pengunjuk rasa ke Polres Kepulauan Meranti beberapa waktu lalu.


“Suratnya tidak jelas, tuntutan aksinya apa, siapa Korlap nya, jadi itu kami tolak. Telebih lagi situasi Covid-19 saat ini,” ujarnya.

Atas terjadinya bentrokan tersebut, Syaiful mengaku bahwa pihak kepolisian hanya mengamankan mereka yang mencoba bersikeras untuk masuk ke halaman Kantor Bupati saja.

“Walaupun begitu, kemauan dari mahasiswa sampai juga disini. Kami tetap memfasilitasi pengamanan. Tapi mereka harus patuh juga dengan aturan yang ada. Tugas kami pengamanan, ditambah lagi dari Pemda pun sudah ada tiga orang Asisten yang mewakili Bupati. Namun, tidak diterima oleh mahasiswa,” tegasnya.***


Sumber : Dhamean Hasibuan
author

Redaksi

http://www.tiraipesisir.com

Independent & Demokratis

Follow Me: